Raden Sosrokartono, Sang Jenius Kakak RA Kartini: Dari Leiden, Front Perang, hingga “Dar Oes Salam”
Nama Raden Adjeng Kartini telah menjadi ikon emansipasi. Namun di balik sosok itu, ada kakak kandung yang sama memesona: Raden Mas Panji (R.M.P.) Sosrokartono—poliglot, sarjana Leiden, wartawan perang, pendidik, sekaligus pelayan kemanusiaan. Dibahas dengan sudut pandang terkini dan data tepercaya, berikut kisah Raden Sosrokartono sang jenius kakak RA Kartini yang layak kembali disorot publik Indonesia. (Wikipedia)
Siapa Sosrokartono?
Lahir di Jepara pada 10 April 1877, Sosrokartono adalah putra R.M.A.A. Sosroningrat dan M.A. Ngasirah, serta kakak kandung Kartini. Sejak kecil ia menempuh pendidikan Belanda, lalu berangkat ke Eropa untuk studi tinggi—sebuah langkah langka bagi anak priyayi Jawa pada zamannya. (Wikipedia)
Menembus Universitas Leiden: Lulusan Timur yang Bersinar
Dokumen akademik menunjukkan Kartono menjadi orang Indonesia pertama yang secara resmi diterima di Universitas Leiden pada 1901. Ia meraih BA (1903) dan Doctoraal/Drs. (1908) dalam bidang bahasa-bahasa Timur, berjejaring erat dengan orientalis terkemuka M.J. de Goeje. Fakta ini terekam dalam artikel ilmiah jurnal Archipel yang menerbitkan dua surat keluarga Kartini kepada de Goeje. (OpenEdition Journals)
Poliglot & Wartawan Perang
Reputasi intelektualnya mendunia berkat kemahiran bahasa—puluhan bahasa asing. Sumber media arus utama di Indonesia menyebut variasi angka (sekitar 26–36 bahasa). Di masa Perang Dunia I, ia bekerja sebagai wartawan perang untuk media internasional (antara lain diberitakan sebagai koresponden New York Herald), memanfaatkan jejaring dan kecakapan bahasa yang luar biasa. Angka kapasitas bahasa dan kiprah jurnalistiknya banyak dirujuk oleh Tempo dan sejumlah laporan sejarah populer. (Tempo, BandungBergerak.id)
Sejumlah tulisan populer juga menyinggung nama samaran “Bintang Tiga” saat ia meliput peristiwa besar PD I. Meski menarik, klaim-klaim populer seperti ini sebaiknya dibaca hati-hati karena tidak selalu ditopang arsip primer.
Di Jenewa: Jejak di Liga Bangsa-Bangsa
Selepas perang, Kartono disebut pernah bertugas sebagai penerjemah di Liga Bangsa-Bangsa (cikal bakal PBB) di Jenewa. Narasi ini berulang dalam berbagai sumber sekunder Indonesia—dengan versi yang beragam mengenai jabatan pastinya—namun konsisten menempatkannya sebagai juru bahasa berkelas dunia. Untuk menjaga akurasi, kita mengutipnya sebagai “pernah menjadi penerjemah” alih-alih mengafirmasi klaim ekstrem (mis. “penerjemah tunggal” atau “kepala penerjemah”). (Tempo)
Pulang ke Tanah Air: Sekolah, Perpustakaan, dan Bandung
Sekitar 1924–1925 ia kembali, memilih jalur pendidikan dan kebudayaan. Ia berelasi dengan Ki Hadjar Dewantara dan turut mengelola Nationale Middelbare School (NMS) Bandung—ruang pembibitan intelektual muda, tempat ide-ide kebangsaan berdenyut. Sejumlah catatan sejarah populer dan media sejarah menggarisbawahi kontribusi Kartono pada pendidikan nasional di masa ini. (BandungBergerak.id)
“Dar Oes Salam” di Jalan Pungkur: Ilmu, Laku, dan Kemanusiaan
Di Bandung, alamat Jalan Pungkur No. 19 dikenal sebagai “Dar Oes Salam (Darus Salam)”—rumah kontrakan Kartono yang menjadi pusat pengabdian. Di sana ia menolong masyarakat tanpa memandang latar: mengajar, memberi semangat aktivis pergerakan (termasuk Sukarno muda), hingga menolong orang sakit dengan pendekatan sederhana (air putih dan doa). Ia wafat di Bandung pada 8 Februari 1952, kemudian dimakamkan di Kudus sesuai wasiatnya. Situs sejarah lokal merekam detail ini, termasuk kesaksian tentang kerendahan hatinya. “Menurut Bung Hatta, Sosrokartono bisa saja hidup sebagai ‘miliarder’—namun ia memilih mengabdi,” tulis satu laporan. (BandungBergerak.id)
Jejaring Mahasiswa Hindia & Warisan Gagasan
Dalam jejaring pelajar Hindia di Belanda, Kartono termasuk generasi awal yang aktif—dikaitkan sebagai anggota awal (bahkan oleh beberapa penulis disebut turut menggagas) Indische Vereeniging yang kelak menjadi Perhimpunan Indonesia. Sumber akademik dan ensiklopedik menegaskan peran Indische Vereeniging (berdiri 1908) sebagai wadah intelektual perantau Hindia yang menyemai nasionalisme. Berbagai kajian sejarah pendidikan dan kebudayaan juga menyebut keterlibatan Kartono dalam lingkar ini. (Encyclopedia Britannica, De Gruyter Brill)
Warisan lain yang tak kalah penting adalah tradisi intelektual keluarga Kartini. Arsip surat-surat Kartini—yang menyentuh pendidikan, emansipasi, dan cita-cita kemajuan—tersimpan di Leiden University Libraries sebagai koleksi penting yang menunjukkan percakapan gagasan di antara saudara-saudari ini, termasuk dengan Kartono. (digitalcollections.universiteitleiden.nl)
Mengapa Sosrokartono Relevan untuk Pembaca Masa Kini?
-
Teladan lintas disiplin. Kartono menjembatani ilmu bahasa, jurnalisme, pendidikan, dan laku sosial—sebuah profil “intelektual publik” yang kita butuhkan hari ini.
-
Kosmopolit tapi membumi. Dari Eropa kembali ke kampung halaman; dari ruang sidang ke ruang kelas; dari meja redaksi ke “Dar Oes Salam”—ia memilih dampak, bukan pangkat.
-
Jembatan dua dunia. Pengalaman internasionalnya dipakai untuk memperkuat masyarakat di tanah air, bukan untuk berumah di menara gading.
Fakta Ringkas R.M.P. Sosrokartono
-
Lahir–wafat: 10 April 1877 (Jepara) – 8 Februari 1952 (Bandung). (Wikipedia, BandungBergerak.id)
-
Kakak kandung R.A. Kartini. (Wikipedia)
-
Leiden University: diterima resmi 1901; BA 1903; Drs 1908 (bahasa-bahasa Timur). (OpenEdition Journals)
-
Poliglot (sekitar 26–36 bahasa, menurut berbagai sumber); wartawan perang masa PD I. (Tempo, BandungBergerak.id)
-
Penerjemah pada Liga Bangsa-Bangsa (versi jabatan bervariasi pada sumber sekunder). (Tempo)
-
Bandung: mengelola NMS Bandung; mendirikan ruang pengabdian Dar Oes Salam di Jalan Pungkur 19. (BandungBergerak.id)
Catatan Metodologis & Validitas Sumber
Artikel ini merujuk kombinasi sumber akademik (jurnal Archipel), arsip institusional (Leiden University Libraries), serta media tepercaya (Tempo, Historia) dan laporan sejarah lokal (BandungBergerak) untuk detail tempat dan kesaksian. Untuk klaim yang berpotensi hiperbolik—misalnya “penerjemah tunggal” atau “kepala penerjemah” Liga Bangsa-Bangsa—kami memilih rumusan yang konservatif sampai tersedia bukti primer. (OpenEdition Journals, digitalcollections.universiteitleiden.nl, Tempo, BandungBergerak.id)
Raden Sosrokartono menunjukkan bahwa kecemerlangan intelektual tak harus berdiam di pusat kekuasaan. Ia menempuh rute panjang—Leiden, Wina, Jenewa, hingga Bandung—untuk akhirnya menambatkan diri di tengah rakyat. Di era ketika kita giat mencari teladan integritas dan kompetensi, kisah Raden Sosrokartono sang jenius kakak RA Kartini adalah cermin jernih: ilmu tertinggi adalah yang menghidupi sesama.